KONSEP SEHAT
Diantara kita banyak yang sering mendengar kata "sehat". Kata sehat itu tersebut sudah tidak asing lagi di setiap orang yang mendengarnya. Tidak hampir banyak yang diantara kita yang mengartikan kata sehat yaitu dalam keadaan tidak sakit dan tidak stress. Pengartian tersebut tidak salah, tetapi mungkin masih banyak yang perlu kita telaah mengenai arti kata "sehat".
Pertama-tama yang harus kita pahami mengenai Konsep Sehat. Konsep sehat terdiri dari 5 dimensi, yaitu berdasarkan :
Diantara kita banyak yang sering mendengar kata "sehat". Kata sehat itu tersebut sudah tidak asing lagi di setiap orang yang mendengarnya. Tidak hampir banyak yang diantara kita yang mengartikan kata sehat yaitu dalam keadaan tidak sakit dan tidak stress. Pengartian tersebut tidak salah, tetapi mungkin masih banyak yang perlu kita telaah mengenai arti kata "sehat".
Pertama-tama yang harus kita pahami mengenai Konsep Sehat. Konsep sehat terdiri dari 5 dimensi, yaitu berdasarkan :
- Dimensi Emosi : dimensi ini mencoba menjelaskan
bahwa manusia dalam keadaan sehat yakni dalam keadaan mampu mengatur emosi
nya sendiri. Emosi itu sendiri yang telah kita ketahui terdiri dari
bermacam-macam jenis, yakni pengaruh (affect), emosi, dan
suasana hati (mood).
- Dimensi Intelektual : dimensi ini mencoba menjelaskan
bahwa seseorang dalam keadaan sehat yakni dalam keadaan mampu menerima,
menyerap segala macam pembelajaran, pendidikan yang di berikan baik secara
langsung maupun tidak langsung, tanpa mengalami hambatan ataupun masalah
yang mengganggu pikirannya. Selain itu seseorang juga mampu menyelesaikan
masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan nya.
- Dimensi Sosial : Kebutuhan-kebutuhan
yang berkaitan dengan dimensi sosial manusia meliputi kebutuhan akan
penerimaan, dicintai dan mencintai, pengakuan dan persahabatan serta
segala bentuk hubungan sosial lainnya.
- Dimensi Fisik dan Mental : dimensi ini menerangkan bahwa
keadaan fisik dan mental seseorang menjadi salah satu syarat apakah
seseorang dikatakan sehat atau tidak. Fisik seseorang, lebih menekannkan
lebih kepada keadaan jasmani seseorang. Dimana seseorang mampu menjaga
jasmani dirinya. Sedangkan mental, merupakan keadaan dimana seseorang
harus mampu menjaga keadaan psikologi dirinya.
- Dimensi Spiritual : spiritual dalam dimensi ini
menjelaskan bahwa seseorang mampu menjalankan ajaran agama yang telah di
percaya atau diyakini seseorang untuk menuntun hidupnya. Dengan mampu
menjalankan spiritual ini diharapkan seseorang dapat menjalankan segala
kehidupannya dengan baik dan benar.
SEJARAH
PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL
Secara
etimologi, kesehatan mental atau hygiene berasal dari bahasa latin, yaitu :
Mens atau Mentis yang berarti jiwa, roh, dan semangat. Hygiene yang berarti
nama dewi kesehatan yunani yaitu Hyoeia.
PENDEKATAN
KESEHATAN MENTAL
Pendekatan
kesehatan mental dapat dilihat dari beberapa sisi. Pada tulisan kali ini, saya
akan menjelaskan pendekatan kesehatan mental dari 3 sisi, yaitu orientasi
klasik, penyesuaian diri, dan juga pengembangan potensi.
- Orientasi
Klasik : Orientasi klasik yang umumnya digunakan dalam kedokteran
termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik
fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai
keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada
keluhan fisik. Sedangkan sehat mental artinya tidak ada keluhan mental.
Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan
masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami gangguan
jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang-orang
seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran
dan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat mental dari
orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi.
- Penyesuaian Diri : Dengan
menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak
dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh
karena kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan
budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental seseorang
dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada
hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam
masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap
sangat sehat mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau
sakit mental bukan sesuatu yang absolut. Berkaitan dengan relativitas
batasan sehat mental, ada gejala lain yang juga perlu dipertimbangkan.
Kita sering melihat seseorang yang menampilkan perilaku yang diterima oleh
lingkungan pada satu waktu dan menampilkan perilaku yang bertentangan
dengan norma lingkungan di waktu lain. Sehat atau sakit mental bukan dua
hal yang secara tegas terpisah. Sehat atau tidak sehat mental berada dalam
satu garis dengan derajat yang berbeda. Artinya kita hanya dapat
menentukan derajat sehat atau tidaknya seseorang. Dengan kata lain kita
hanya bicara soal ‘kesehatan mental’ jika kita berangkat dari pandangan
bahwa pada umumnya manusia adalah makhluk sehat mental, atau
‘ketidak-sehatan mental’ jika kita memandang pada umumnya manusia adalah
makhluk tidak sehat mental. Berdasarkan orientasi penyesuaian diri,
kesehatan mental perlu dipahami sebagai kondisi kepribadian seseorang
secara keseluruhan. Penentuan derajat kesehatan mental seseorang bukan
hanya berdasarkan jiwanya tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhan
dan perkembangan seseorang dalam lingkungannya.
- Pengembangan Potensi : Seseorang
dikatakan mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia mendapat kesempatan
untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa dihargai
oleh orang lain dan dirinya sendiri. Dalam psiko-terapi (Perawatan Jiwa)
ternyata yang menjadi pengendali utama dalam setiap tindakan dan perbuatan
seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih
penting dan kadang-kadang sangat menentukan adalah perasaan. Telah
terbukti bahwa tidak selamanya perasaan tunduk kepada pikiran, bahkan
sering terjadi sebaliknya, pikiran tunduk kepada perasaan. Dapat dikatakan
bahwa keharmonisan antara pikiran dan perasaanlah yang membuat tindakan
seseorang tampak matang dan wajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa
tujuan Hygiene mental atau kesehatan mental adalah mencegah timbulnya
gangguan mental dan gangguan emosi, mengurangi atau menyembuhkan penyakit
jiwa serta memajukan jiwa. Menjaga hubungan sosial akan dapat mewujudkan
tercapainya tujuan masyarakat membawa kepada tercapainya tujuan-tujuan
perseorangan sekaligus. Kita tidak dapat menganggap bahwa kesehatan mental
hanya sekedar usaha untuk mencapai kebahagiaan masyarakat, karena
kebahagiaan masyarakat itu tidak akan menimbulkan kebahagiaan dan
kemampuan individu secara otomatis, kecuali jika kita masukkan dalam
pertimbangan kita, kurang bahagia dan kurang menyentuh aspek individu, dengan
sendirinya akan mengurangi kebahagiaan dan kemampuan sosial.
TEORI
KEPRIBADIAN SEHAT
Sebelum
kita mengetahui lebih dalam mengenai kepribadian sehat dan teori-teori apa yang
telah diungkapkan oleh beberapa tokoh, saya akan menjelaskan terlebih dahulu
mengenai pengertian kepribadian itu sendiri.
Kalau
orang telah memilih istilah kepribadian, selanjutnya masih perlu ditunjukkan
bahwa istilah kepribadian lebih tepat daripada istilah teori kepribadian.
Kepribadian
sudah jelas, bahwa kepribadian itu mempunyai arti deskripsi, namun masih ada
kemungkinan pembuatan deskripsi itu dilakukan dari berbagai sudut pandang ilmu
pengetahuan ataupun sudut pandang yang lain. Karena itu supaya lebih jelas
mengenai sasarannya, yaitu bahwa orang mempersoalkan kepribadian itu dalam arti
psikologis, jadi dari sudut pandang psikologi, baiklah secara eksplisit
digunakan istilah psikologi kepribadian
Teori Aliran Psikoanalisis
Dalam teori psikoanalisa, kepribadian
dipandang sebagai stuktur yang terdiri dari tiga unsur atau sistem, yaitu id,
ego, dan superego. Ketiga unsur atau sistem tersebut adalah sebagai berikut :
§ Id
Id (istilah Freud: das Es) adalah sistem
kepribadian yang paling dasar, sistem yang didalamnya terdapat naluri-naluri
bawaan. Untuk dua sistem yang lainnya, id adalah sistem yang bertindak sebagai
penyedia atau atau penyalur energi yang dibutuhkan oleh sistem-sistem tersebut
untuk operasi-operasi atau kegiatan-kegiatan yang dilakukannya.
§ Ego
Ego adalah sistem
kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada dunia objek
dari kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan.
Apabila dikaitkan dengan contoh orang yang sedang lapar, maka bisa diterapkan
bahwa ego bertindak sebagai penunjuk atau pengarah kepada orang yang sedang
lapar ini kepada makanan.
§ Superego
Superego (istilah Freud: das Ueberich) adalah
sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya
evaluatif (menyangkut dan baik-buruk). Menurut Freud, superego terbentuk
melalui internalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan oleh individu dari
sejumlah figur yang berperan, berpengaruh, atau berarti bagi individu tersebut
seperti orang tua dan guru
Teori Aliran Behavioristik
Behaviorisme juga disebut psikologi S – R (stimulus dan respon).
Behaviorisme menolak bahwa pikiran merupakan subjek psikologi dan bersikeras
bahwa psokologi memiliki batas pada studi tentang perilaku dari
kegiatan-kegiatan manusia dan binatang yang dapat diamati. Teori Behaviorisme
sendiri pertama kali diperkenalkan oleh John B. Watson (1879-1958)
Aliran
behaviorisme mempunyai 3 ciri penting, yaitu :
- Menekankan
pada respon-respon yang dikondisikan sebagai elemen dari perilaku
- Menekankan
pada perilaku yang dipelajari dari pada perilaku yang tidak dipelajari.
Behaviorisme menolak kecenderungan pada perilaku yang bersifat bawaan.
- Memfokuskan
pada perilaku binatang. Menurutnya, tidak ada perbedaan alami antara
perilaku manusia dan perilaku binatang. Kita dapat belajar banyak tentang
perilaku kita sendiri dari studi tentang apa yang dilakukan binatang.
Menurut penganut aliran ini perilaku selalu dimulai dengan
adanya rangsangan yaitu berupa stimulus dan diikuti oleh suatu reaksi beupa
respons terhadap rangsangan itu. Salah satu penganut watson yang sangat besar
masukannya untuk perkembangan behaviorisme adalah B.F. Skinner. Aliran ini
memandang manusia seperti mesin yang dapat dikendalikan perilakunya lewat suatu
pengkondisian. Ini menganggap manusia yang meberikan respon positif yang
berasal dari luar. Dalam aliran ini manusia di anggap tidak memiliki sikap diri
sendiri.
Jadi menurut Behaviorisme manusia dianggap memberikan respons secara pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar. Kepribadian manusia sebagai suatu sistem yang bertingkah laku menurut cara yang sesuai peraturannya dan menganggap manusia tidak memiliki sikap diri sendiri.
Jadi menurut Behaviorisme manusia dianggap memberikan respons secara pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar. Kepribadian manusia sebagai suatu sistem yang bertingkah laku menurut cara yang sesuai peraturannya dan menganggap manusia tidak memiliki sikap diri sendiri.
Kepribadian yang sehat menurut behavioristik:
- Memberikan
respon terhadap faktor dari luar seperti orang lain dan lingkungannya
- Bersifat
sistematis dan bertindak dengan dipengaruhi oleh pengalaman
- Sangat
dipengaruhi oleh faktor eksternal, karena manusia tidak memiliki sikap
dengan bawaan sendiri
- Menekankan
pada tingkah laku yang dapat diamati dan menggunakan metode yang obyektif
Teori
Aliran Humanistik
Dalam
psikologi humanistic tidak terlalu banyak mengeluarkan teori, karena pada
dasarnya pendekatan humanistik menempel pada psikoanalisa dan behavioristik
namun tidak semata-mata menempel/melekat pada aliran-aliran ini, aliran
humanistic melekat tetapi tidak sepikir oleh kedua aliran ini, menurut teori
humanistic manusia dilahirkan kedalam dunia dengan membawa faktor genetika
kemudian faktor bawaan itu berkembang, bersama individu yang mulai tumbuh
sehingga faktor-faktor lingkungan mempunyai andil dalam perkembangan
kepribadian. Dengan kata lain aliran humanistik ini ingin mengatakan
peranan faktor kognitif dan lingkungan berpengaruh besar terhadap perkembangan
kepribadian individu.
Individu
dituntut untuk untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya
sendiri untuk mencapai yang dinamakan kepribadian sehat. Bukan saja
mengandalakan pengalaman pengalaman yang terbentuk pada masa lalu atau
membiarkan diri terjebak dalam suatu ingatan-ingatan pada tahap sebelumnya dan
memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar
sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.
Menurut
paham humanistic hal ini bukanlah pencerminan dari kepribadian sehat. Ciri dari
kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau
individu yang termaginalisasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu.
Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap
individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk
menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya.
Pendapat
Allport
Allport
lebih optimis tentang kodrat manusia daripada Freud, dan ia memperlihatkan
suatu keharuan yang luar biasa terhadap manusia, sifat-sifatnya yang tampaknya
bersumber pada masa kanak-kanaknya. Orangtuanya menekankan pentingnya kerja
keras dan kesalehan, dan mereka membentuknya dengan suasana aman dan kasih
sayang. Semangat perikemanusiaan ditanamkan dalam keluarga mereka dan Allport
yang muda itu didorong untuk mencari jawaban-jawaban keagamaan terhadap
pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah kehidupan. Pengalaman-pengalaman
pribadinya ini kelak tercermin dalam pandangan-pandangan teoritisnya tentang
kodrat kepribadian.
Seperti
dikemukakan, pandangan-pandangan pribadi dan professional dari Allport berbeda
dengan pandangan-pandangan Freud dan gambaran kodrat manusia yang
diutarakan Allport adalah positif, penuh harapan, dan menyanjung-nyanjung.
Karena itu salah satu pendekatan yang berguna terhadap pemahaman segi pandangan
psikologis Allport adalah mengemukakan tema-tema pokok dari teorinya tentang
kepribadian dan menunjukkan bagaimana tema-tema itu berbeda dari apa yang
terdapat pada Freud.
Kepribadian menurut Allport adalah individu yang dewasa yang
berkepribadian sehat, ia tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat
dikontrol oleh kekuatan ketidaksadaran, sesuatu kekuatan yang tidak dapat
terlihat. Allport menekankan kepribadian pada individu yang memiliki
“Intensional”. Intensional terdiri dari visi&misi, tujuan jangka panjang,
sensasi/tantangan dan tegangan-tegangan yang semakin lama ditambah. Namun bukan
kebahagiaan maksud daripada intensional ini, karena kebahagiaan dapat merupakan
hasil dari integrasi kepribadian dalam mencari intensional
Allport mengungkapkan “Princple of organizing the energy
level” yang berarti prinsip pengaturan tingkat energy. Orang yang matang/sehat
secara terus menerus membutuhkan motif kekuatan dan daya hidup yang cukup
(Penambahan tegangan, dan sensasi). Kemudian ia juga menyatakan “Principle of
mastery and competence” disini ia mengindikasikan orang-orang yang matang tidak
cukup puas dengan melaksanakan atau mencapai tingkatan-tingkatan yang sedang
atau yang hanya memadai. Individu didorong untuk terampil melakukan sedapat
mungkin mencapai/memenuhi tingkat penguasaan dan kemampuan yang tinggi dalam
usaha pemenuhan motif-motif (Visi&misi, tujuan jangka panjang, tegangan
yang semakin ditambah). Individu yang sehat tidak pernah berhenti mengejar
point dalam tujuan mereka, setiap point yang jatuh dalam tujuan mereka selalu
diganti oleh point dengan tujuan yang lain.
Tingkatan proprium/self
- Kesadaran
akan “saya secara jasmaniah”.
- Identitas
diri.
- Harga
diri. Kebutuhan anak akan otonomi. Disini individu masih dalam tahap
perkembangan anak. Yang mengalami konflik autonomy vs shame & doubt.
- Perluasan
diri.
- Gambaran
diri. Terbentuk/berkembang dari interaksi orangtua dan anak. Dalam
mempelejari interaksi ini anak melakukan suatu perumusan tentang intensi.
- Rational
thinking. Individu menyadari bahwa ia dapat memecahkan suatu msalah dengan
menggunakan proses yang logis dan rasional.
- Propriate
Striving. Terjadi pada saat individu memasuki masa adolescence. Karena
telah memiliki pemahaman akan arti hidup sepenuhnya.
Pendapat
Rogers
Pada
dasarnya menurut Rogers, kepribadian yang sehat adalah ketika seseorang
berfungsi secara sepenuhnya. Rogers menempatkan suatu dorongan - "satu
kebutuhan fundamental" - dalam sistemnya tentang kepribadian: memeliharakan,
mengaktualisasikan dan meningkatkan semua segi individu. Kecenderungan ini
dibawa sejak lahir dan meliputi komponen-komponen pertumbuhan fisiologis dan
psikologis, meskipun selama bertahun-tahun awal kehidupan, kecenderungan
tersebut lebih terarah kepada segi-segi fisiologis.
Tidak ada
segi pertumbuhan dan perkembangan manusia beroperasi secara terlepas dari
kecenderungan aktualisasi ini. Pada tingkat-tingkat yang lebih rendah,
kecenderungan aktualisasi berkenaan dengan kebutuhan fisiologis dasar akan
makanan, air, dan udara. Karena itu kecenderungan aktualisasi itu memungkinkan
organisme hidup terus dengan membantu dan mempertahankan kebutuhan-kebutuhan
jasmaniah dasar.
Akan
tetapi aktualisasi berbuat jauh lebih banyak daripasa mempertahankan organisme;
aktualisasi juga memudahkan dan meningkatkan pematangan dan pertumbuhan. Jiak
bayi bertambah besar, organ-organ tubuh dan proses-proses fisiologis menjadi
semakin kompleks dan berdiferensiasi karena mereka mulai berfungsi dalam
arah-arah yang dituju. Proses pematangan ini mulai dengan perubahan-perubahan
dalam ukuran dan bentuk dari bayi yang baru lahir sampai pada perkembangan
sifat-sifat jenis kelamin sekunder pada masa remaja.
Pematangan
yang penuh itu tidak dicapai secara otomatis, meskipun fakta bahwa
"blue-print" bagi proses pematangan terkandung dalam struktur genetis
individu. Proses itu memerlukan banyak usaha; Rogers membandingkannya dengan
perjuangan dan rasa sakit yang terjadi ketika seorang anak belajar berjalan.
Anak itu tersandung dan jatuh serta merasa sakit. Akan lebih mudah dan kurang
merasa sakit kalau tidak berusaha untuk berdiri dan belajar berjalan. Walaupun
demikian anak itu masih terus berusaha dan akhirnya berhasil. Apa sebabnya anak
itu pantang mundur? Rogers berpendapat bahwa kecenderungan untuk aktualisasi
sebagai suatu tenaga pendorong adalah jauh lebih kuat daripada rasa sakit dan
perjuangan serta setiap dorongan yang ikut menghentikan usaha untuk berkembang.
Pendapat
Maslow
Dalam
pandangan Maslow, semua manusia memiliki perjuangan atau kecenderungan yang
dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasikan-diri. Akan tetapi ada lebih banyak
hal yang terkandung dalam teorinya tentang dorongan manusia. Kita didorong oleh
kebutuhan-kebutuhan universal dan yang dibawa sejak lahir, yang tersusun dalam
suatu tingkat, dari yang paling kuat sampai kepada yang paling lemah. Kita
dapat berpikir tentang tingkat kebutuhan-kebutuhan diri Maslow seperti
suatu tangga, kita harus meletakkan kaki pada anak tangga pertama sebelum
berusaha mencapai anak tangga kedua, dan pada anak tangga kedua sebelum anak
tangga ketiga dan seterusnya. Dengan cara yang sama juga, kebutuhan yang paling
rendah dan paling kuat harus dipuaskan sebelum muncul kebutuhan tingkat kedua
dan seterusnya naik tingkat sampai muncul kebutuhan kelima dan yang paling
tinggi - aktualisasi diri.
Jadi,
prasyarat untuk menccapai aktualisasi diri ialah memuaskan empat kebutuhan yang
berada dalam tingkat yang lebih rendah:
- Kebutuhan
biologis dan fisiologis (biological)
- Kebutuhan
akan rasa aman (safety need)
- Kebutuhan
akan memiliki dan cinta (need for socialization)
- Kebutuhan
akan penghargaan (self-esteem)
- Kebutuhan
akan bebas bertingkah laku (self-actualization)
Kebutuhan-kebutuhan
ini harus sekurang-kurangnya sebagian dipuaskan dalam urutan ini, sebelum
timbul kebutuhan aktualisasi diri.
Pandangan
Erich Fromm
Umumnya kata “kebutuhan”
diartikan sebagai kebutuhan fisik, yang oleh Fromm dipandang sebagai kebutuhan
aspek kebinatangan dari manusia, yakni kebutuhan makan, minum, seks, dan bebas
dari rasa sakit. Kebutuhan manusia dalam arti kebutuhan sesuai dengan
eksistensinya sebagai manusia, menurut Fromm meliputi dua kelompok kebutuhan;
pertama kebutuhan untuk menjadi bagian dari sesuatu dan menjadi otonom, yang
terdiri dari kebutuhan Relatedness, Rootedness, Transcendence, Unity, dan
Identity. Kedua, kebutuhan memahami dunia, mempunyai tujuan dan memanfaatkan
sifat unik manusia, yang terdiri dari kebutuhan Frame of orientation, frame of
devotion, Excitation-stimulation, dan Effectiveness.
Kebutuhan Kebebasan dan
Keterikatan
1. Keterhubungan
(relatedness): Kebutuhan mengatasi perasaan kesendirian dan terisolasi dari
alam dan dari dirinya sendiri. Kebutuhan untuk bergabung dengan makhluk lain
yang dicintai,menjadi bagian dari sesuatu. Keinginan irasional untuk
mempertahankan hubungan yang pertama, yakni hubungan dengan ibu, kemudian
diwujudkan ke dalam perasaan solidaritas dengan orang lain. Hubungan paling
memuaskan bisa positif yakni hubungan yang didasarkan pada cinta, perhatian,
tanggung jawab, penghargaan, dan pengertian dari orang lain,bisa negatif yakni
hubungan yang didasarkan pada kepatuhan atau kekuasaan.
2. Keberakaran
(rootedness): Kebutuhan keberakaran adalah kebutuhan untuk memiliki
ikatan-ikatan yang membuatnya merasa nyaman di dunia (merasa seperti di
rumahnya). Manusia menjadi asing dengan dunianya karena dua alasan yaitu:
· Dia direnggut dari
akar-akar hubungannya oleh situasi (ketika manusia dilahirkan, dia menjadi
sendirian dan kehilangan ikatan alaminya)
· Fikiran dan kebebasan
yang dikemangkannya sendiri justru memutus ikatan alami dan menimbulkan
perasaan isolasi/tak berdaya.
Keberakaran adalah
kebutuhan untuk mengikat diri dengan kehidupan. Setiap saat orang dihadapkan
dengan dunia baru, dimana dia harus tetap aktif dan kreatif mengembangkan
perasaan menjadi bagian yang integral dari dunia. Dengan demikian dia akan
tetap merasa aman, tidak cemas, berada di tengah-tengah duania yang penuh
ancaman. Orang dapat membuat ikatan fiksasi yang tidak sehat, yakni
mengidentifikasikan diri dengan satu situasi, dan tidak mau bergerak maju untuk
membuat ikata baru dengan dunia baru.
3. Menjadi pencipta
(transcendency): Karena individu menyadari dirinya sendiri dari lingkungannya,
mereka kemudian mengenali betapa kuat dan menakutkan alam semesta itu, yang
membuatnya meras tak berdaya. Orang ingin mengatasi perasaan takut dan
ketidakpastian menghadapi kemarahan dan ketakmenentuan semesta. Orang
membutuhkan peningkatan diri, berjuang untuk mengatasi sifat fasif dikuasai
alam menjadi aktif, bertujuan dan bebas, berubah dari makhluk ciptaan menjadi
pencipta. Seperti menjadi keterhubungan, transendensi bisa positif (menciptakan
sesuatu) atau negatif (menghancurkan sesuatu).
4. Kesatuan (unity):
Kebutuhan untuk mengatasi eksistensi keterpisahan antara hakikat binatang dan
non binatang dalam diri seseorang. Keterpisahan, kesepian, dan isolasi semuanya
bersumber dari kemandirian dan kemerdekaan “untuk apa orang mengejar
kemandirian dan kemerdekaan kalau hasilnya justru kesepian dan isolasi?” dari dilema
ini muncul kebutuhan unitas. Orang dapat mencapai unitas, memperoleh kepuasan
(tanpa menyakiti orang lain dan diri sendiri) kalau hakikat kebinatangan dan
kemanusiaan itu bisa didamaikan, dan hanya dengan berusaha untuk menjadi
manusia seutuhnya melalui berbagi cinta dan kerjasama dengan orang lain.
5. Identitas (identity):
Kebutuhan untuk menjadi “aku”, kebutuhan untuk sadar dengan dirinya sendiri
sebagai sesuatu yang terpisah. Manusia harus merasakan dapat mengontrol
nasibnya sendiri, harus bisa membuat keputusan, dan merasa bahwa hidupnya
nyata-nyata miliknya sendiri. Misalnya orang primitif mengidentifikasikan diri
dengan sukunya, dan tidak melihat dirinya sendiri sebagai bagian yang terpisah
dari kelompoknya.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar