Rabu, 27 Maret 2013

KONSEP SEHAT


KONSEP SEHAT
Diantara kita banyak yang sering mendengar kata "sehat". Kata sehat itu tersebut sudah tidak asing lagi di setiap orang yang mendengarnya. Tidak hampir banyak yang diantara kita yang mengartikan kata sehat yaitu dalam keadaan tidak sakit dan tidak stress. Pengartian tersebut tidak salah, tetapi mungkin masih banyak yang perlu kita telaah mengenai arti kata "sehat".
Pertama-tama yang harus kita pahami mengenai Konsep Sehat. Konsep sehat terdiri dari 5 dimensi, yaitu berdasarkan :
  1. Dimensi Emosi : dimensi ini mencoba menjelaskan bahwa manusia dalam keadaan sehat yakni dalam keadaan mampu mengatur emosi nya sendiri. Emosi itu sendiri yang telah kita ketahui terdiri dari bermacam-macam jenis, yakni pengaruh (affect), emosi, dan suasana hati (mood).
  2. Dimensi Intelektual : dimensi ini mencoba menjelaskan bahwa seseorang dalam keadaan sehat yakni dalam keadaan mampu menerima, menyerap segala macam pembelajaran, pendidikan yang di berikan baik secara langsung maupun tidak langsung, tanpa mengalami hambatan ataupun masalah yang mengganggu pikirannya. Selain itu seseorang juga mampu menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan nya.
  3. Dimensi Sosial : Kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan dimensi sosial manusia meliputi kebutuhan akan penerimaan, dicintai dan mencintai, pengakuan dan persahabatan serta segala bentuk hubungan sosial lainnya.
  4. Dimensi Fisik dan Mental : dimensi ini menerangkan bahwa keadaan fisik dan mental seseorang menjadi salah satu syarat apakah seseorang dikatakan sehat atau tidak. Fisik seseorang, lebih menekannkan lebih kepada keadaan jasmani seseorang. Dimana seseorang mampu menjaga jasmani dirinya. Sedangkan mental, merupakan keadaan dimana seseorang harus mampu menjaga keadaan psikologi dirinya.
  5. Dimensi Spiritual : spiritual dalam dimensi ini menjelaskan bahwa seseorang mampu menjalankan ajaran agama yang telah di percaya atau diyakini seseorang untuk menuntun hidupnya. Dengan mampu menjalankan spiritual ini diharapkan seseorang dapat menjalankan segala kehidupannya dengan baik dan benar.

SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL
Secara etimologi, kesehatan mental atau hygiene berasal dari bahasa latin, yaitu : Mens atau Mentis yang berarti jiwa, roh, dan semangat. Hygiene yang berarti nama dewi kesehatan yunani yaitu Hyoeia.

PENDEKATAN KESEHATAN MENTAL
Pendekatan kesehatan mental dapat dilihat dari beberapa sisi. Pada tulisan kali ini, saya akan menjelaskan pendekatan kesehatan mental dari 3 sisi, yaitu orientasi klasik, penyesuaian diri, dan juga pengembangan potensi.
  1. Orientasi Klasik : Orientasi klasik yang umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedangkan sehat mental artinya tidak ada keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang-orang seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran dan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat mental dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi.
  2. Penyesuaian Diri : Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap sangat sehat mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau sakit mental bukan sesuatu yang absolut. Berkaitan dengan relativitas batasan sehat mental, ada gejala lain yang juga perlu dipertimbangkan. Kita sering melihat seseorang yang menampilkan perilaku yang diterima oleh lingkungan pada satu waktu dan menampilkan perilaku yang bertentangan dengan norma lingkungan di waktu lain. Sehat atau sakit mental bukan dua hal yang secara tegas terpisah. Sehat atau tidak sehat mental berada dalam satu garis dengan derajat yang berbeda. Artinya kita hanya dapat menentukan derajat sehat atau tidaknya seseorang. Dengan kata lain kita hanya bicara soal ‘kesehatan mental’ jika kita berangkat dari pandangan bahwa pada umumnya manusia adalah makhluk sehat mental, atau ‘ketidak-sehatan mental’ jika kita memandang pada umumnya manusia adalah makhluk tidak sehat mental. Berdasarkan orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental perlu dipahami sebagai kondisi kepribadian seseorang secara keseluruhan. Penentuan derajat kesehatan mental seseorang bukan hanya berdasarkan jiwanya tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan seseorang dalam lingkungannya.
  3. Pengembangan Potensi : Seseorang dikatakan mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia mendapat  kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri. Dalam psiko-terapi (Perawatan Jiwa) ternyata yang menjadi pengendali utama dalam setiap tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang sangat menentukan adalah perasaan. Telah terbukti bahwa tidak selamanya perasaan tunduk kepada pikiran, bahkan sering terjadi sebaliknya, pikiran tunduk kepada perasaan. Dapat dikatakan bahwa keharmonisan antara pikiran dan perasaanlah yang membuat tindakan seseorang tampak matang dan wajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan Hygiene mental atau kesehatan mental adalah mencegah timbulnya gangguan mental dan gangguan emosi, mengurangi atau menyembuhkan penyakit jiwa serta memajukan jiwa. Menjaga hubungan sosial akan dapat mewujudkan tercapainya tujuan masyarakat membawa kepada tercapainya tujuan-tujuan perseorangan sekaligus. Kita tidak dapat menganggap bahwa kesehatan mental hanya sekedar usaha untuk mencapai kebahagiaan masyarakat, karena kebahagiaan masyarakat itu tidak akan menimbulkan kebahagiaan dan kemampuan individu secara otomatis, kecuali jika kita masukkan dalam pertimbangan kita, kurang bahagia dan kurang menyentuh aspek individu, dengan sendirinya akan mengurangi kebahagiaan dan kemampuan sosial.


TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
Sebelum kita mengetahui lebih dalam mengenai kepribadian sehat dan teori-teori apa yang telah diungkapkan oleh beberapa tokoh, saya akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai pengertian kepribadian itu sendiri.

Kalau orang telah memilih istilah kepribadian, selanjutnya masih perlu ditunjukkan bahwa istilah kepribadian lebih tepat daripada istilah teori kepribadian.
Kepribadian sudah jelas, bahwa kepribadian itu mempunyai arti deskripsi, namun masih ada kemungkinan pembuatan deskripsi itu dilakukan dari berbagai sudut pandang ilmu pengetahuan ataupun sudut pandang yang lain. Karena itu supaya lebih jelas mengenai sasarannya, yaitu bahwa orang mempersoalkan kepribadian itu dalam arti psikologis, jadi dari sudut pandang psikologi, baiklah secara eksplisit digunakan istilah psikologi kepribadian






Teori Aliran Psikoanalisis
Dalam teori psikoanalisa, kepribadian dipandang sebagai stuktur yang terdiri dari tiga unsur atau sistem, yaitu id, ego, dan superego. Ketiga unsur atau sistem tersebut adalah sebagai berikut :
§  Id
Id (istilah Freud: das Es) adalah sistem kepribadian yang paling dasar, sistem yang didalamnya terdapat naluri-naluri bawaan. Untuk dua sistem yang lainnya, id adalah sistem yang bertindak sebagai penyedia atau atau penyalur energi yang dibutuhkan oleh sistem-sistem tersebut untuk operasi-operasi atau kegiatan-kegiatan yang dilakukannya.
§  Ego
Ego adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada  dunia objek dari kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan. Apabila dikaitkan dengan contoh orang yang sedang lapar, maka bisa diterapkan bahwa ego bertindak sebagai penunjuk atau pengarah kepada orang yang sedang lapar ini kepada makanan.
§  Superego
Superego (istilah Freud: das Ueberich) adalah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut dan baik-buruk). Menurut Freud, superego terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan oleh individu dari sejumlah figur yang berperan, berpengaruh, atau berarti bagi individu tersebut seperti orang tua dan guru


Teori Aliran Behavioristik
Behaviorisme juga disebut psikologi S – R (stimulus dan respon). Behaviorisme menolak bahwa pikiran merupakan subjek psikologi dan bersikeras bahwa psokologi memiliki batas pada studi tentang perilaku dari kegiatan-kegiatan manusia dan binatang yang dapat diamati. Teori Behaviorisme sendiri pertama kali diperkenalkan oleh John B. Watson (1879-1958)
Aliran behaviorisme mempunyai 3 ciri penting, yaitu :
  1. Menekankan pada respon-respon yang dikondisikan sebagai elemen dari perilaku
  2. Menekankan pada perilaku yang dipelajari dari pada perilaku yang tidak dipelajari. Behaviorisme menolak kecenderungan pada perilaku yang bersifat bawaan.
  3. Memfokuskan pada perilaku binatang. Menurutnya, tidak ada perbedaan alami antara perilaku manusia dan perilaku binatang. Kita dapat belajar banyak tentang perilaku kita sendiri dari studi tentang apa yang dilakukan binatang.

Menurut penganut aliran ini perilaku selalu dimulai dengan adanya rangsangan yaitu berupa stimulus dan diikuti oleh suatu reaksi beupa respons terhadap rangsangan itu. Salah satu penganut watson yang sangat besar masukannya untuk perkembangan behaviorisme adalah B.F. Skinner. Aliran ini memandang manusia seperti mesin yang dapat dikendalikan perilakunya lewat suatu pengkondisian. Ini menganggap manusia yang meberikan respon positif yang berasal dari luar. Dalam aliran ini manusia di anggap tidak memiliki sikap diri sendiri.
Jadi menurut Behaviorisme manusia dianggap memberikan respons secara pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar. Kepribadian manusia sebagai suatu sistem yang bertingkah laku menurut cara yang sesuai peraturannya dan menganggap manusia tidak memiliki sikap diri sendiri.
Kepribadian yang sehat menurut behavioristik:
  1. Memberikan respon terhadap faktor dari luar seperti orang lain dan lingkungannya
  2. Bersifat sistematis dan bertindak dengan dipengaruhi oleh pengalaman
  3. Sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, karena manusia tidak memiliki sikap dengan bawaan sendiri
  4. Menekankan pada tingkah laku yang dapat diamati dan menggunakan metode yang obyektif

Teori Aliran Humanistik
Dalam psikologi humanistic tidak terlalu banyak mengeluarkan teori, karena pada dasarnya pendekatan humanistik menempel pada psikoanalisa dan behavioristik namun tidak semata-mata menempel/melekat pada aliran-aliran ini, aliran humanistic melekat tetapi tidak sepikir oleh kedua aliran ini, menurut teori humanistic manusia dilahirkan kedalam dunia dengan membawa faktor genetika kemudian faktor bawaan itu berkembang, bersama individu yang mulai tumbuh sehingga faktor-faktor lingkungan mempunyai andil dalam perkembangan kepribadian. Dengan kata lain aliran humanistik  ini ingin mengatakan peranan faktor kognitif dan lingkungan berpengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian individu.
Individu dituntut untuk untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri untuk mencapai yang dinamakan kepribadian sehat. Bukan saja mengandalakan pengalaman pengalaman yang terbentuk pada masa lalu atau membiarkan diri terjebak dalam suatu ingatan-ingatan pada tahap sebelumnya dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.

Menurut paham humanistic hal ini bukanlah pencerminan dari kepribadian sehat. Ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang termaginalisasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya.



Pendapat Allport
Allport lebih optimis tentang kodrat manusia daripada Freud, dan ia memperlihatkan suatu keharuan yang luar biasa terhadap manusia, sifat-sifatnya yang tampaknya bersumber pada masa kanak-kanaknya. Orangtuanya menekankan pentingnya kerja keras dan kesalehan, dan mereka membentuknya dengan suasana aman dan kasih sayang. Semangat perikemanusiaan ditanamkan dalam keluarga mereka dan Allport yang muda itu didorong untuk mencari jawaban-jawaban keagamaan terhadap pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah kehidupan. Pengalaman-pengalaman pribadinya ini kelak tercermin dalam pandangan-pandangan teoritisnya tentang kodrat kepribadian.

Seperti dikemukakan, pandangan-pandangan pribadi dan professional dari Allport berbeda dengan pandangan-pandangan Freud dan gambaran kodrat manusia  yang diutarakan Allport adalah positif, penuh harapan, dan menyanjung-nyanjung. Karena itu salah satu pendekatan yang berguna terhadap pemahaman segi pandangan psikologis Allport adalah mengemukakan tema-tema pokok dari teorinya tentang kepribadian dan menunjukkan bagaimana tema-tema itu berbeda dari apa yang terdapat pada Freud.
Kepribadian menurut Allport adalah individu yang dewasa yang berkepribadian sehat, ia tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat dikontrol oleh kekuatan ketidaksadaran, sesuatu kekuatan yang tidak dapat terlihat. Allport menekankan kepribadian pada individu yang memiliki “Intensional”. Intensional terdiri dari visi&misi, tujuan jangka panjang, sensasi/tantangan dan tegangan-tegangan yang semakin lama ditambah. Namun bukan kebahagiaan maksud daripada intensional ini, karena kebahagiaan dapat merupakan hasil dari integrasi kepribadian dalam mencari intensional
Allport mengungkapkan “Princple of organizing the energy level” yang berarti prinsip pengaturan tingkat energy. Orang yang matang/sehat secara terus menerus membutuhkan motif kekuatan dan daya hidup yang cukup (Penambahan tegangan, dan sensasi). Kemudian ia juga menyatakan “Principle of mastery and competence” disini ia mengindikasikan orang-orang yang matang tidak cukup puas dengan melaksanakan atau mencapai tingkatan-tingkatan yang sedang atau yang hanya memadai. Individu didorong untuk terampil melakukan sedapat mungkin mencapai/memenuhi tingkat penguasaan dan kemampuan yang tinggi dalam usaha pemenuhan motif-motif (Visi&misi, tujuan jangka panjang, tegangan yang semakin ditambah). Individu yang sehat tidak pernah berhenti mengejar point dalam tujuan mereka, setiap point yang jatuh dalam tujuan mereka selalu diganti oleh point dengan tujuan yang lain.

Tingkatan proprium/self
  1. Kesadaran akan “saya secara jasmaniah”.
  2. Identitas diri.
  3. Harga diri. Kebutuhan anak akan otonomi. Disini individu masih dalam tahap perkembangan anak. Yang mengalami konflik autonomy vs shame & doubt.
  4. Perluasan diri.
  5. Gambaran diri. Terbentuk/berkembang dari interaksi orangtua dan anak. Dalam mempelejari interaksi ini anak melakukan suatu perumusan tentang intensi.
  6. Rational thinking. Individu menyadari bahwa ia dapat memecahkan suatu msalah dengan menggunakan proses yang logis dan rasional.
  7. Propriate Striving. Terjadi pada saat individu memasuki masa adolescence. Karena telah memiliki pemahaman akan arti hidup sepenuhnya.

Pendapat Rogers
Pada dasarnya menurut Rogers, kepribadian yang sehat adalah ketika seseorang berfungsi secara sepenuhnya. Rogers menempatkan suatu dorongan - "satu kebutuhan fundamental" - dalam sistemnya tentang kepribadian: memeliharakan, mengaktualisasikan dan meningkatkan semua segi individu. Kecenderungan ini dibawa sejak lahir dan meliputi komponen-komponen pertumbuhan fisiologis dan psikologis, meskipun selama bertahun-tahun awal kehidupan, kecenderungan tersebut lebih terarah kepada segi-segi fisiologis.
Tidak ada segi pertumbuhan dan perkembangan manusia beroperasi secara terlepas dari kecenderungan aktualisasi ini. Pada tingkat-tingkat yang lebih rendah, kecenderungan aktualisasi berkenaan dengan kebutuhan fisiologis dasar akan makanan, air, dan udara. Karena itu kecenderungan aktualisasi itu memungkinkan organisme hidup terus dengan membantu dan mempertahankan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah dasar.
Akan tetapi aktualisasi berbuat jauh lebih banyak daripasa mempertahankan organisme; aktualisasi juga memudahkan dan meningkatkan pematangan dan pertumbuhan. Jiak bayi bertambah besar, organ-organ tubuh dan proses-proses fisiologis menjadi semakin kompleks dan berdiferensiasi karena mereka mulai berfungsi dalam arah-arah yang dituju. Proses pematangan ini mulai dengan perubahan-perubahan dalam ukuran dan bentuk dari bayi yang baru lahir sampai pada perkembangan sifat-sifat jenis kelamin sekunder pada masa remaja.
Pematangan yang penuh itu tidak dicapai secara otomatis, meskipun fakta bahwa "blue-print" bagi proses pematangan terkandung dalam struktur genetis individu. Proses itu memerlukan banyak usaha; Rogers membandingkannya dengan perjuangan dan rasa sakit yang terjadi ketika seorang anak belajar berjalan. Anak itu tersandung dan jatuh serta merasa sakit. Akan lebih mudah dan kurang merasa sakit kalau tidak berusaha untuk berdiri dan belajar berjalan. Walaupun demikian anak itu masih terus berusaha dan akhirnya berhasil. Apa sebabnya anak itu pantang mundur? Rogers berpendapat bahwa kecenderungan untuk aktualisasi sebagai suatu tenaga pendorong adalah jauh lebih kuat daripada rasa sakit dan perjuangan serta setiap dorongan yang ikut menghentikan usaha untuk berkembang.

Pendapat Maslow
Dalam pandangan Maslow, semua manusia memiliki perjuangan atau kecenderungan yang dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasikan-diri. Akan tetapi ada lebih banyak hal yang terkandung dalam teorinya tentang dorongan manusia. Kita didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal dan yang dibawa sejak lahir, yang tersusun dalam suatu tingkat, dari yang paling kuat sampai kepada yang paling lemah. Kita dapat berpikir tentang tingkat kebutuhan-kebutuhan diri Maslow seperti suatu tangga, kita harus meletakkan kaki pada anak tangga pertama sebelum berusaha mencapai anak tangga kedua, dan pada anak tangga kedua sebelum anak tangga ketiga dan seterusnya. Dengan cara yang sama juga, kebutuhan yang paling rendah dan paling kuat harus dipuaskan sebelum muncul kebutuhan tingkat kedua dan seterusnya naik tingkat sampai muncul kebutuhan kelima dan yang paling tinggi - aktualisasi diri.
Jadi, prasyarat untuk menccapai aktualisasi diri ialah memuaskan empat kebutuhan yang berada dalam tingkat yang lebih rendah:
  1. Kebutuhan biologis dan fisiologis (biological)
  2. Kebutuhan akan rasa aman (safety need)
  3. Kebutuhan akan memiliki dan cinta (need for socialization)
  4. Kebutuhan akan penghargaan (self-esteem)
  5. Kebutuhan akan bebas bertingkah laku (self-actualization)
Kebutuhan-kebutuhan ini harus sekurang-kurangnya sebagian dipuaskan dalam urutan ini, sebelum timbul kebutuhan aktualisasi diri.

Pandangan Erich Fromm
Umumnya kata “kebutuhan” diartikan sebagai kebutuhan fisik, yang oleh Fromm dipandang sebagai kebutuhan aspek kebinatangan dari manusia, yakni kebutuhan makan, minum, seks, dan bebas dari rasa sakit. Kebutuhan manusia dalam arti kebutuhan sesuai dengan eksistensinya sebagai manusia, menurut Fromm meliputi dua kelompok kebutuhan; pertama kebutuhan untuk menjadi bagian dari sesuatu dan menjadi otonom, yang terdiri dari kebutuhan Relatedness, Rootedness, Transcendence, Unity, dan Identity. Kedua, kebutuhan memahami dunia, mempunyai tujuan dan memanfaatkan sifat unik manusia, yang terdiri dari kebutuhan Frame of orientation, frame of devotion, Excitation-stimulation, dan Effectiveness.
Kebutuhan Kebebasan dan Keterikatan
1. Keterhubungan (relatedness): Kebutuhan mengatasi perasaan kesendirian dan terisolasi dari alam dan dari dirinya sendiri. Kebutuhan untuk bergabung dengan makhluk lain yang dicintai,menjadi bagian dari sesuatu. Keinginan irasional untuk mempertahankan hubungan yang pertama, yakni hubungan dengan ibu, kemudian diwujudkan ke dalam perasaan solidaritas dengan orang lain. Hubungan paling memuaskan bisa positif yakni hubungan yang didasarkan pada cinta, perhatian, tanggung jawab, penghargaan, dan pengertian dari orang lain,bisa negatif yakni hubungan yang didasarkan pada kepatuhan atau kekuasaan.
2. Keberakaran (rootedness): Kebutuhan keberakaran adalah kebutuhan untuk memiliki ikatan-ikatan yang membuatnya merasa nyaman di dunia (merasa seperti di rumahnya). Manusia menjadi asing dengan dunianya karena dua alasan yaitu:
· Dia direnggut dari akar-akar hubungannya oleh situasi (ketika manusia dilahirkan, dia menjadi sendirian dan kehilangan ikatan alaminya)
· Fikiran dan kebebasan yang dikemangkannya sendiri justru memutus ikatan alami dan menimbulkan perasaan isolasi/tak berdaya.
Keberakaran adalah kebutuhan untuk mengikat diri dengan kehidupan. Setiap saat orang dihadapkan dengan dunia baru, dimana dia harus tetap aktif dan kreatif mengembangkan perasaan menjadi bagian yang integral dari dunia. Dengan demikian dia akan tetap merasa aman, tidak cemas, berada di tengah-tengah duania yang penuh ancaman. Orang dapat membuat ikatan fiksasi yang tidak sehat, yakni mengidentifikasikan diri dengan satu situasi, dan tidak mau bergerak maju untuk membuat ikata baru dengan dunia baru.
3. Menjadi pencipta (transcendency): Karena individu menyadari dirinya sendiri dari lingkungannya, mereka kemudian mengenali betapa kuat dan menakutkan alam semesta itu, yang membuatnya meras tak berdaya. Orang ingin mengatasi perasaan takut dan ketidakpastian menghadapi kemarahan dan ketakmenentuan semesta. Orang membutuhkan peningkatan diri, berjuang untuk mengatasi sifat fasif dikuasai alam menjadi aktif, bertujuan dan bebas, berubah dari makhluk ciptaan menjadi pencipta. Seperti menjadi keterhubungan, transendensi bisa positif (menciptakan sesuatu) atau negatif (menghancurkan sesuatu).
4. Kesatuan (unity): Kebutuhan untuk mengatasi eksistensi keterpisahan antara hakikat binatang dan non binatang dalam diri seseorang. Keterpisahan, kesepian, dan isolasi semuanya bersumber dari kemandirian dan kemerdekaan “untuk apa orang mengejar kemandirian dan kemerdekaan kalau hasilnya justru kesepian dan isolasi?” dari dilema ini muncul kebutuhan unitas. Orang dapat mencapai unitas, memperoleh kepuasan (tanpa menyakiti orang lain dan diri sendiri) kalau hakikat kebinatangan dan kemanusiaan itu bisa didamaikan, dan hanya dengan berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya melalui berbagi cinta dan kerjasama dengan orang lain.
5. Identitas (identity): Kebutuhan untuk menjadi “aku”, kebutuhan untuk sadar dengan dirinya sendiri sebagai sesuatu yang terpisah. Manusia harus merasakan dapat mengontrol nasibnya sendiri, harus bisa membuat keputusan, dan merasa bahwa hidupnya nyata-nyata miliknya sendiri. Misalnya orang primitif mengidentifikasikan diri dengan sukunya, dan tidak melihat dirinya sendiri sebagai bagian yang terpisah dari kelompoknya.



Sumber :




Tidak ada komentar:

Posting Komentar